Pages

Minggu, 08 Mei 2011

Gara - gara Lokasi Parkir part. 2 : Lamborgini

Tadi pagi abis kuliah Pengauditan, gw ktemu ma Raja, temen seangkatan gw di FE UII.
"Heh,abis kuliah apa lu?" tanya Raja.
"Pengauditan," jawab gw.
"Hari gini masih Pengauditan???" tanya Raja lagi (iramanya agak ngeremehin gw).
Gw gak jawab. Raja emang selangkah lebih maju dari gw, dalam hal Indeks Prestasi.


"Mau kemana lu?" tanya Raja lagi (ni orang banyak tanya).
"Balik lah," jawab gw.
"Naek mobil?" tanya Raja lagi (kampret,...tanya' mulu'sih...).
Gw emang baru jalan menuju parkiran mobil kampus gw. 
"Hu'um," tipu gw (seraya ngetes gitu deh).
"Mobil apaan?" tanya Raja lagi,lagi dan lagi.
"Lamborgini", tutur gw rendah hati.
"Buset dah! Gw nebeng dong. Pengen liat dalemannya Lamborgini",kali ini Raja memberi pernyataan (mana percaya-percaya aja nih bocah).
"Ayok lah", kata gw. "Katanya anak FMN. Manusia Kiri. Kemakan bullshit kapitalisme juga", kata hati gw.


Kami pun berjalan layaknya sahabat sampai teras kampus. Akrab. Akhirnya kami sampe' di parkiran mobil.
"Mana Lamborgini lu?", penyakit bertanya Raja kumat.
"Lu tunggu sini dulu!", titah gw.
"Oke!", sambut Raja.


Gw pergi ninggalin Raja, ngambil kendaraan gw. Beberapa saat kemudian, gw ngehamipirin Raja yang nggak beranjak dari tempat gw ninggalin dia.
"Baji**an!!!", umpat Raja sambil megang rambut keritingnya.
"Katanya Lamborgini! Ini mah labour-gitu!", kata Raja sembari ngumpat-ngumpat juga.
"Yup. Kenalin dong! Namanya AIDIT," kata gw memperkenalkan Vespa warna kuning gw.
"Jadi nebeng gw kagak?", kali ini gw yang nanya.
"Yaudah lah! Ayok!!! Kita kan proletar!",jawab Raja.

Selasa, 05 April 2011

Asal Muasal Bu Guwek

Di posting-an lalu gua cerita tentang Bu Guwek, guru biologi. Sampai sekarang, sosoknya masih misterius. Nama aslinya kagak gua kenal. Tapi karena gua berinisiatif tinggi untuk mengenal beliau, gua panggil Ibu Guwek.

Guwek adalah bahasa jawa dari burung hantu. Burung ini punya mata bulat, dan paruh ciut. Kesannya menyeramkan. Gua nggak pernah ngeliat burung ini terbang. Gua ngeliat dia selalu di dalam sangkar, baik di kebun binatang atau pasar hewan. Selain itu, burung ini punya kebiasaan memejamkan mata. Tapi saat matanya terbuka, tatapannya tajam. Lirak-lirik ke segala arah.

Sebutan ibu Guwek untuk guru biologi satu ini, tercetus saat gua masih duduk di kelas 1 SMA. Saat itu ujian semeter. Waktu itu, gua masih malas belajar. Serba kesulitan di setiap ujian. Sebagai siswa yang malas elajar tapi cerdas, gua rajin memata-matai lembar jawaban teman sejawat.

Beliau bertugas sebagai guru jaga. Beliau melakukan tugasnya dengan baik. Kadang beliau terlelap dalam suasana hening ujian semester. Bersandar di kursi, dengan buku agenda ujian di tangannya. Sekali-kali ia terbangun. Ketika itu terjadi, bersiap lah tenang dan sistematis. Matanya jelalatan, seraya mencari mangsa untuk diterkam. Bagai Guwek yang kelaparan.

Pandangan mengerikan itu pernah hinggap di wajah gua. Bukan tak berarti apa-apa. Dia mengira gua adalah sasaran empuk. Jantung gua berdetak kencang. Khawatir. Gua memberanikan diri buat menatap matanya. Seketika hilang getaran dalam dada itu. Justru urat tawa gua pengen meledak-ledak. Bagaimana tidak?

Ingatan membawa gua ke dunia Winnie The Pooh. Dimana ada tokoh bernama Owl, yang gua rasa mirip banget ma tu guru. Chek This Out!



Gua yang Melegenda

Untuk pertama kali dalam 3 tahun terakir, gw berkunjung ke SMA gw, SMA Negeri 1 Kasihan Bantul. Niatnya sih cuma mampir (gw ma temen gw, Rian, mau liputan di Kasongan, Bantul), jajan minum. Eh, guru-guru pada nongkrong di gerbang sekolah. Sebagai mantan murid yang beradab, gw nyalamin guru-guru itu, termasuk Mas Tatang (Satpam yang paling deket ma gw).

Wajah guru-guru udah lama nggak gw liat. Beberapa gw lupa namanya. Beberapa juga gw nggak tau namanya dari dulu. Pertanyaan guru-guru bertubi menyerang gw. Tentang gw kuliah dimana, jurusan apa, dan sekarang semester berapa. Bahkan ada yang tanya seraya menyindir.
"Wah, bentar lagi lulus berarti?,kata Bu PPKN (gw lupa namanya).Gw cuma menjawab dengan senyum mendeham.

Saat diruang guru, gw ketemu guru biologi dan Bu Made, guru seni rupa.
"Lhoh, kamu kan yang suka tidur waktu ujian?", tanya Bu Guwek (burung hantu-red).Panggilan sayang gw buat Bu Guru Biologi yang gw nggak tau namanya.
"Itu lho, siswa yang paling nggak bisa diem kalo' dikelas", jawab Bu Made menyimpulkan.

Dalam hati gw ngerasa bangga. Salut setengah mati. Ternyata guru-guru gw segitu pedulinya. Sampe hal-hal kecil tentang gw masih dikenang. Belum lagi pas gw nimpuk guru matematika,Pak Agus (sekarang udah dimutasi) pake' tisu bekas ingus. Kursi Pak Marjono (guru sosiologi) gw kasih upil. Nimpuk temen gw (Fitri) pake' botol Sprite 1 liter, gara-gara dia nggateli beudh. Ngencingin handbody temen gw (Fitri lagi). Ngencingin jaket ma baju olah raga temen gw (Kalo' yang ini Agam). Dan sebagainya lah. Ya tuhan. Jaman SMA gw ternyata banyak dikenang orang.

Apa kabar mereka semua ya?

Senin, 04 April 2011

Menuju Kebumen April Tahun Lalu

Sabtu ini cerah jogja tak tampak. Langit mendung, awan abu-abu gelap. Hawa dingin 10 april ini menandakan akan turun hujan.Benar adanya. Jam 1 siang titik- titik gerimis mulai berjatuhan.

Sabtu ini saya berencana pergi ke kebumen dengan kawan saya, Mahesa Ahening Raras Khaesthy. Di malam sebelumnya, kami mengikat janji, jam 2 siang berangkat. Rencana memang hanya rencana. Jam 2 siang, saya mengirim satu pesan elektronik pada Mahesa. "Gimana?Siap berangkat?" begitu kira - kira isi pesan itu. Lima menit tanpa balasan, saya menelepon Mahesa. Tak ada jawaban pula.Lalu kira - kira jam setengah tiga, handphone saya bergetar. Muncul tulisan "1 pesan diterima" di layar berdimensi kira - kira 2 inci di handphone biru itu. Ternyata itu pesan dari Mahesa. "Bajjan!Aku baru bangun!", seraya mengumpat dan meminta maaf begitu isi pesannya. Lima belas menit setelah itu ada lagi pesan dari Mahesa, menerangkan bahwa ia sudah siap. Mendengar rintik hujan dari luar semakin deras, saya pun membalas pesan dari Mahesa. "Nanti saja, hujan nih", balas saya. Mahesa pun tak membalasnya lagi.

Jam 4 sore, saya beranjak dari rumah, menuju kediaman Mahesa. Perjalanan dari Taman Sari ke Ngadiwinatan hanya butuh waktu lima menit saja, bila tanpa halangan tentunya. Sampai di Ngadiwinatan, di depan bangunan berwarna hijau yang bagian dalamnya dirombak menjadi studio sablon, saya melihat sosok pria berusia 40an dengan kacamata berbingkai tipis di luar. pria itu bapaknya Mahesa. Mahesa adalah anak pemilik "Jangkrik", sebuah industi menengah yang memproduksi pakaian. Hormat saya wujudkan dengan bersalaman dengan pria 166 cm itu, adat jawa sepertinya memang seperti itu. Setelah bersalaman dan sedikit basa - basi, saya langsung menuju rumah Mahesa yang ada di belakang bangunan itu. Melewati gang selebar satu setengah meter, 10 meter dari bibir jalan dijumpai di kanan jalan rumah dengan pintu warna hitam. Saat itu pintu terbuka, mata saya langsung tertuju pada seorang lelaki. Lelaki itu berkacamata bingkai hitam. Kaos yang dipakainya hitam dengan desain tulisan "Forever The Sickest Kids". Saya masuk ruangan 2m x 5m yang bersekat ditengahnya. Ia sedang duduk di depan komputer, menatap layar 14 inci. Ia sedang meng-akses situs pertemanan Twitter lewat sebuah program yang saya tidak tahu namanya. Sebatang rokok Djarum Super ada di sela jari telunjuk dan jari tengah di tangan kanannya. Lima menit kami bersaut obrolan- obrolan kecil,lalu ia mengambil jaket dari kamarnya, dibalik sekat ruangan itu.

Kira-kira jam 4 lebih 15 menit, kami berangkat dari rumah Mahesa setelah pamitan dengan bapaknya. Suzuki Shogun 125 silver kami naiki bertiga. Saya, Mahesa dan ayam mutiara pesanan eyang paman saya di Kebumen. Ya. Kami ke Kebumen menuju rumah eyang paman saya. Dalam perjalanan kami membicarakan banyak hal. Tapi yang paling membuang banyak waktu adalah cerita Jangker, teman kami yang sekarang ini berusia 20 tahun lebih lima bulan, namun belum pernah sekali saja menikmati pacaran. Adalah cerita Mahesa tentang Jangker yang membuat lagu untuk Dennis, cewek idamannya yang baru kemaren menempuh Ujian Nasional SMA, sayangnya Dennis sudah punya pilihan untuk cowoknya ( dan itu bukan Jangker, hehehehe ). Lagu itu belum pernah saya dengar, namun sudah membuat saya terbahak. Bahkan Mahesa yang menceritakan pun tertawa, sampai - sampai pembonceng motor Supra X di depan kami menoleh kaget. Dengan antusias Mahesa membocorkan sedikit lirik lagu itu, "Dennis, Dennis,....." seperti itu kira - kira potongan lagunya. Penasaran pun hinggap di benak saya. Ingin rasanya mendengar lagu itu. Sosok Jangker yang saya kenal adalah gokil dan tak tau malu, tapi ia bisa memuja cewek sampai membuat lagu? Ini dilema antara ROMANTIS dan RAPUH, atau lebih tepatnya PUTUS ASA karena CINTA.

Minggu, 03 April 2011

Gara-gara Lokasi Parkir

Parkiran kampus gw, Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII), nggak jadi satu antara mobil dan motor/sepeda. Parkiran mobil ada di halaman depan, sedangkan motor/sepeda di belakang. Di halaman depan nggak cuma ada parkiran. Ada pos satpam, kampus International Program (IP), dan masjid (markasnya takmir masjid).

Seperti parkiran biasanya, motor nggak boleh parkir di area parkir mobil. Tapi nyatanya, ada juga motor yang parkir di samping masjid (yang notabenenya masih komplek parkiran mobil). Padahal ada tulisan "Dilarang Parkir Motor Di Sini". Usut punya usut, yang parkir disana itu mahasiswa atau dosen, yang akif dalam kegiatan ketakmiran. Timbul pertanyaan di benak gw,"Apa cuma "takmir" yang boleh parkir di sono?"

Beberapa minggu lalu, gw memutuskan buat pindah parkiran. Gw parkirin motor gw di parkiran "takmir". Kenapa? Karena kalo gw parkir di sono, gw gak perlu nunjukin STNK (surat tanda nomor kendaraan) kalo' mau cabut dari kampus. Jadi gua pindah parkiran, atas nama keadilan berpakir dan asas kenyamanan.

Kehijrahan parkir ternyata jadi perhatian temen-temen di kelas Pengauditan. Berharhar(berhari-hari) mereka ngeliat gw kalo' mau pulang, menuju parkiran depan.

Tadi pagi (senin, 4/4/2011) , pasca ujian Pengauditan, gw nongkrong sendirian di depan kelas. 3 cewek pesolek ngedatengin gw. Gak perlu gw sebutin namanya (biarlah jadi misteri, karena gw juga gak tau siapa nama mereka).
"Belum mau balik, Di?" tanya cewek 1.
"Belon" jawab gw.
"Kapan mau balik?" tanya cewek 1 lagi.
"Bentar lagi kali'. Kenapa emang?" jawab gw stay cool but ready.
"Kita nebeng ya kalo' kamu balik?" pinta cewek 2 sambil cengar-cengir.
"Ho!?", jawab gw sontak. Saat itu gw berasa cowok paling ganteng di kampus.
"Oke deh, tapi giliran ya?" jawab gw tingkat lanjut.
"Kok giliran?" tanya cewek 3.

Gw menjawab dengan senyum kecil. Gw bangkitkan pantat gw dari manja. Berdiri, lalu melangkah menuju parkiran "istimewa". Trio macan itu membuntuti gw. Mereka senyam-senyum, kayak anak kecil mau dibeliin mainan. Sesampainya di parkiran,
"Lho, mana mobilmu, Di?" tanya cewek 3.
"Mobil?" gw ngah-ngoh.
"Kamu naekk montor?", tanya cewek 3 dengan logat agak ngapak.
"Lhah, iya, lu kira?" jawab gw sekaligus bertanya.
"Aku kira naekk mobhel" kata cewek 3, ngapaknya mengental.
"Tau gitu kita gak minta anterin kamu pulang!" kata cewek 1 dengan ngapak juga.
"Gw kena serangan fajar dari Cilapop (Cilacap-red) nih" hati gw bergumam.
"Yaudah gak jadi deh, Di!" tukas cewek 2 agak sebel ma gw.
"Bagus dah, gw juga repot kalo' harus nganter kalian bertiga. Tukang ojek sih seneng." kata gw, masih dalam keadaan cooling boy.
Tiga cewek itu berlalu dari depan gw, memendam kesal. Mungkin mengumpat.

Hal yang bisa gw ambil sebagai pelajaran. Sekecil apa pun perubahan yang kita lakukan, bisa mengubah persepsi orang ke kita. Dalam hal ini, gw mengubah parkir motor gw ke parkiran mobil, ternyata mengubah gw jadi CM (cah mobil) di mata "trio macan". Jangan-jangan, cuma gara-gara parkiran, gw bisa mengubah sistem pemerintahan Republik Indonesia. Hehehehehe *_*....

Sabtu, 02 April 2011

Tidak, Jibril Tidak Pensiun

Jaman sekarang ini, seperti kita tahu, Muhammad SAW adalah rosul terakir di planet biru ini. Memang banyak orang mengaku rosul belakangan ini. Namun tentu itu bukan suatu kebenaran dalam kepercayaan kita umat Islam. Pertanyaannya adalah, apa malaikat Jibril, malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu pada Nabi Muhammad SAW masih aktif bertugas? Sebagai orang yang tidak tau menau jadi gw kagak tau.

Emha Ainun Nadjib a.k.a CakNun,menulis buku berjudul "Tidak,Jibril Tidak Pensiun". Buku yang menurut gw menohok banget judulnya. Gak tau dah isinya, soalnya gw belon baca (temen gw Ichan sih punya, tapi gak boleh gw pinjem).

Sabtu kemarin, 2 april 2011, gw liputan ma temen gw Tika ke Rumah Sakit Umum Daerah Bantul, lebih dikenal dengan RS Panembahan Senopati. Waktu sampai di area parkirnya, gw menjumpai sosok Jibril. Gila', Cak Nun jenius. Sosok itu hitam. Djibril "berparas tampan, bertahta pedang". Bersanding dengan Naruto dan "Lets Join,Lets Sing, and Dance" Rukun Warga. Jibril Tidak Pensiun Kawan!!!

Ini dia penampakannya :




Kenapa Gua???

Hari terakhir bulan Maret lalu, gw ke kampus buat Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Aspek Hukum Dalam Bisnis (AHDB). Gw sekelas ma temen "goblok" gw, Ikhwan Fauzi a.k.a Ichan. Abis ujian setengah mikir yang kita tempuh, kita nongkrong dulu di "pantai" kampus gw, FE UII. Ngobrol-ngobrol, cekikikan kagak jelas, sambil rokok-an.

Dalam rangkaian agenda nongkrong, tiba-tiba ada cewek pake' baju putih, jilbab item. Seketika Ichan bergumam, "Mau gw tuh". Maksudnya dia "mau" ma cewek itu.
"Ya kenalan lah, cuk", kata gw.
"Kagak ah", desah Ichan.
"Gw deh yang ngenalin", sambut gw lagi.
"Kagak", tegas si oon namanya Ichan itu.
"Parah lu, makanya beli kaca!(kamar kos Ichan gak ada cerminnya. Mungkin linear dengan sikapnya yang pemalu di depan cewek).
"Goblok!!!", umpat dia ke gw.
"(Hadudududududu)", keluh gw dalam hati.

Gak berapa lama, dua menit kemudian deh palingan. Gw samperin tu cewek.
"Mbak orangnya supel kagak?", tanya gw ke si mbak baju putih.
"????", muka mbaknya penuh dengan tanya menatap gw.
"Tu lho mbak, temen gw mau kenalan", tukas gw to the point.

Gw ngliat Ichan ngeliat gw dengan mata menyipit. Giginya keliatan, dia cengar-cengir. Dan akhirnya,
"Sory mas, aku gak bisa deket ma rokok", kata si mbak ke gw dengan jutek.

Hal itu membuat gw bertanya. Kan gw mau ngenalin dia ke Ichan!? Kenapa gw yang ditolak mentah-mentah. ADUUUUUHHHHHH!!!! Kenapa gw???