Pages

Senin, 04 April 2011

Menuju Kebumen April Tahun Lalu

Sabtu ini cerah jogja tak tampak. Langit mendung, awan abu-abu gelap. Hawa dingin 10 april ini menandakan akan turun hujan.Benar adanya. Jam 1 siang titik- titik gerimis mulai berjatuhan.

Sabtu ini saya berencana pergi ke kebumen dengan kawan saya, Mahesa Ahening Raras Khaesthy. Di malam sebelumnya, kami mengikat janji, jam 2 siang berangkat. Rencana memang hanya rencana. Jam 2 siang, saya mengirim satu pesan elektronik pada Mahesa. "Gimana?Siap berangkat?" begitu kira - kira isi pesan itu. Lima menit tanpa balasan, saya menelepon Mahesa. Tak ada jawaban pula.Lalu kira - kira jam setengah tiga, handphone saya bergetar. Muncul tulisan "1 pesan diterima" di layar berdimensi kira - kira 2 inci di handphone biru itu. Ternyata itu pesan dari Mahesa. "Bajjan!Aku baru bangun!", seraya mengumpat dan meminta maaf begitu isi pesannya. Lima belas menit setelah itu ada lagi pesan dari Mahesa, menerangkan bahwa ia sudah siap. Mendengar rintik hujan dari luar semakin deras, saya pun membalas pesan dari Mahesa. "Nanti saja, hujan nih", balas saya. Mahesa pun tak membalasnya lagi.

Jam 4 sore, saya beranjak dari rumah, menuju kediaman Mahesa. Perjalanan dari Taman Sari ke Ngadiwinatan hanya butuh waktu lima menit saja, bila tanpa halangan tentunya. Sampai di Ngadiwinatan, di depan bangunan berwarna hijau yang bagian dalamnya dirombak menjadi studio sablon, saya melihat sosok pria berusia 40an dengan kacamata berbingkai tipis di luar. pria itu bapaknya Mahesa. Mahesa adalah anak pemilik "Jangkrik", sebuah industi menengah yang memproduksi pakaian. Hormat saya wujudkan dengan bersalaman dengan pria 166 cm itu, adat jawa sepertinya memang seperti itu. Setelah bersalaman dan sedikit basa - basi, saya langsung menuju rumah Mahesa yang ada di belakang bangunan itu. Melewati gang selebar satu setengah meter, 10 meter dari bibir jalan dijumpai di kanan jalan rumah dengan pintu warna hitam. Saat itu pintu terbuka, mata saya langsung tertuju pada seorang lelaki. Lelaki itu berkacamata bingkai hitam. Kaos yang dipakainya hitam dengan desain tulisan "Forever The Sickest Kids". Saya masuk ruangan 2m x 5m yang bersekat ditengahnya. Ia sedang duduk di depan komputer, menatap layar 14 inci. Ia sedang meng-akses situs pertemanan Twitter lewat sebuah program yang saya tidak tahu namanya. Sebatang rokok Djarum Super ada di sela jari telunjuk dan jari tengah di tangan kanannya. Lima menit kami bersaut obrolan- obrolan kecil,lalu ia mengambil jaket dari kamarnya, dibalik sekat ruangan itu.

Kira-kira jam 4 lebih 15 menit, kami berangkat dari rumah Mahesa setelah pamitan dengan bapaknya. Suzuki Shogun 125 silver kami naiki bertiga. Saya, Mahesa dan ayam mutiara pesanan eyang paman saya di Kebumen. Ya. Kami ke Kebumen menuju rumah eyang paman saya. Dalam perjalanan kami membicarakan banyak hal. Tapi yang paling membuang banyak waktu adalah cerita Jangker, teman kami yang sekarang ini berusia 20 tahun lebih lima bulan, namun belum pernah sekali saja menikmati pacaran. Adalah cerita Mahesa tentang Jangker yang membuat lagu untuk Dennis, cewek idamannya yang baru kemaren menempuh Ujian Nasional SMA, sayangnya Dennis sudah punya pilihan untuk cowoknya ( dan itu bukan Jangker, hehehehe ). Lagu itu belum pernah saya dengar, namun sudah membuat saya terbahak. Bahkan Mahesa yang menceritakan pun tertawa, sampai - sampai pembonceng motor Supra X di depan kami menoleh kaget. Dengan antusias Mahesa membocorkan sedikit lirik lagu itu, "Dennis, Dennis,....." seperti itu kira - kira potongan lagunya. Penasaran pun hinggap di benak saya. Ingin rasanya mendengar lagu itu. Sosok Jangker yang saya kenal adalah gokil dan tak tau malu, tapi ia bisa memuja cewek sampai membuat lagu? Ini dilema antara ROMANTIS dan RAPUH, atau lebih tepatnya PUTUS ASA karena CINTA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar